WHAT'S NEW?
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Oleh Najmuddiin Dliyaaulhaq (Alumni PP Muwahidun 2012|Ketua Umum IKAMU 2017-2019)


Bismillah,
Perkembangan zaman selalu diikuti dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Namun, bagaimana dengan sistem yang menghasilkan produk-produk tadi? Adakah perkembangan atau pembaharuan?

Di Indonesia, dengan budaya dan kemajemukan bahasa yang tinggi, menjadi arti bahwa Indonesia memiliki peradaban yang tinggi. Begitu pula dengan tingkat pendidikan masyarakatnya, karena sebuah peradaban berbanding lurus dengan tingkat pendidikan. Pendidikan barat yang dibawa para penjajah ke  Indonesia, bukanlah awal dari kemajuan sistem pendidikan di Indonesia. Sebab sistem yang ideal akan berubah mengikuti perkembangan zaman.

Jauh sebelum masuknya pendidikan ala barat di Indonesia, ada satu sistem pendidikan asli Indonesia, yaitu pesantren. Sistem pendidikan yang menitik beratkan pada aspek religiusitas, akhlaq, dan budipekerti. Karenanya di awal masa penjajahan pesantren sering menjadi sasaran penjajah, sebab bertentangan dengan tujuan mereka untuk mendapatkan 3G (glory, gold, gospel). Yang kemudian menjadikan banyak pesantren terletak di kaki gunung,  jauh dari kota untuk menjaga keamanan santri yang belajar di pesantren. Akibatnya pendidikan barat (sekolah umum) lebih sering terlihat dan terekspos masyarakat saat itu. Sehingga pendidikan asli Indonesia terpinggirkan bersama keotentikannya. Selain itu, sistem politik etis dan balas budi yang dilakukan Belanda, mempermudah para elit dan bangsawan belajar di sekolah-sekolah yang didirikan Belanda. Sehingga menimbulkan kesan bahwa pendidikan hanya untuk kalangan elit dan bangsawan. Yang kemudian sistem dari sekolah-sekolah itu  diadopsi menjadi sistem pendidikan di Indonesia setelah kemerdekaannya.

Namun ada satu titik kemajuan pendidikan yang sering terlupakan masyarakat kita. Di mana pendidikan pesantren disinergikan dengan sistem pendidikan barat pada awal abad 20-an. Dipelopori KH Ahmad Dahlan yang kemudian dicap sebagai kiyai sesat oleh lingkungan masyarakat di sekitarnya karena menggabungkan sistem barat (orang kafir) dengan sistem pendidikan pesantren. Karena menurut beliau ,"Model pendidikan yang utuh yaitu, pendidikan yang berkesimbangan antara perkembangan mental dan jasmani, antara keyakinan dan intelektual, antara perasaan dan akal pikiran, serta antara dunia dan akhirat." (Buku Ahmad Dahlan).

Kendati demikian pemikiran masyarakat yang masih bersikap skeptis dan membenci penjajahan kolonial tidak tertarik terhadap gagasan pengembangan sistem pendidikan pesantren (agama),  sehingga pendidikan pesantren saat itu tidak berkembang secepat sistem pendidikan yang lain (pendidikan barat). Selain kurangnya dukungan lingkungan, pemerintah kolonial juga pemerintah setelah kemerdekaan tidak memberikan dukungan pengembangan sistem pendidikan tersebut. Sampai akhirnya pada masa orde baru terjadi dikotomi sistem pendidikan yang sangat terlihat. Sebagai salah satu indikasinya yaitu, tidak diakuinya lulusan pesantren untuk melanjutkan perkuliahan di perguruan tinggi.
Barulah ketika pemerintah melihat mulai maraknya problematika sosial, meningkatnya angka degradasi moral, rendahnya sikap nasionalisme, dan hilangnya substansi pendidikan, hingga yang paling parah moral anak-anak sekolah umum yang kian merosot mengikuti trend dan budaya barat yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur yang asli dan hidup di masyarakat. Pemerintah mulai memperbaiki kegagalan sistem pendidikan yang ada sebelumnya. Beberapa model kurikulum pendidikan karakter pun diganti. Hingga puncaknya, pemerintah mengesahkan nilai-nilai penguatan karakter peserta didik di sekolah-sekolah umum.

Sementara itu kira-kira sejak dua dasawarsa terakhir sudah mulai banyak kalangan yang mengakui bahwa alumni pesantren tidak bisa dipandang sebelah mata. Banyak di antara mereka yang kemudian menjadi tokoh nasional dan berkontribusi aktif dalam segala bidang dalam kenegaraan. Sebagaimana kontribusi beberapa pesantren yang sudah berdiri sejak sebelum kemerdekaan dalam memperjuangkan Indonesia. Hal ini juga bisa dilihat dari minat masyarakat yang mempercayakan anak-anak di lembaga pendidikan pesantren yang sangat tinggi. Dan sebagaimana data Kementerian Agama tahun 2012, menunjukan jumlah pesantren yang tercatat di Kemenag  sebanyak 27.230. Jumlah ini jauh meningkat dibanding data  1997, yang tercatat baru sebanyak 4.196 buah. Peningkatan jumlah pesantren yang sangat tinggi yang berbanding lurus dengan minat masyarakat yang tinggi terhadap sistem pendidikan pesantren.
Lalu apakah sebenarnya yang menjadikan minat banyak orang tua mempercayakan anak-anaknya di pesantren?

Dalam sebuah acara pada tahun 2014 di Surabaya, Mentri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan, bahwa pesantren merupakan produk asli Indonesia. Sebagai lembaga pendidikan, pesantren memiliki ciri khas kelembagaan yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lain yang ada di negara manapun selain Indonesia. Memperhatikan hal tersebut, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memetakan tiga trilogi pesantren sebagai bekal pengembangan potensi ekonominya.
“Ada tiga hal yakni dari segi pola pendidikan, aspek keagamaan, dan aspek sosialnya,” katanya.
Selain itu sistem pendidikan pesantren (moderen) yang dewasa ini sudah disinergikan dengan kurikulum yang ditetapkan pemerintah terlihat lebih efektif. Sebab pesantren memberikan lingkungan yang mendukung proses pembelajaran. Jadi bukan hanya mendapatkan ilmu agama, namun berikut ilmu yang membantu para santri untuk berkompetisi di dunia. Tak hanya itu, ustadz dan pengajar yang tinggal di lingkungan pesantren juga memberikan bimbingan lebih di luar kelas.
Tidak hanya akademik, berbagai macam kegiatan juga ditujukan untuk melatih soft skill santri. Sehingga bukan hanya akademisi yang pandai, namun juga manusia yang bermanfaat bagi orang banyak, sebagai bentuk realisasi bahwa Islam itu rahmatan Lil 'alamiin.

Jauh dari orang tua, peraturan yang mengikat, bukan merupakan kekurangan jika kita melihatnya dari sudut pandang positifnya. Sebab kehidupan serba instan saat ini, tidak menjamin anak-anak untuk mau mandiri dalam melakukan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya. Sehingga sikap mandiri itu akan tumbuh dengan sendirinya, ketika berada di tempat asing tanpa ada keluarga yang bersamanya. Hal ini juga yang dapat melatih seorang anak (santri) bagaimana dia berkomunikasi dengan orang lain, bahkan dengan orang (santri) yang berasal dari wilayah, atau suku yang berbeda.

Disiplin juga merupakan kelebihan sistem di pesantren. Bagaikan akademi militer, yang segalanya dihitung dengan waktu. Yang membantu proses pembiasaan mengatur waktu secara maksimal. Sehingga waktu santri tidak terbuang dalam hal yang sia-sia. Dan potensi yang dimilikinya terasah dengan baik secara otomatis. Bukan hanya tentang waktu, juga disiplin dalam hal mentaati peraturan. Dalam proses pembiasaan disiplin (tadib), sosok kiyai menjadi figur dan role model yang menjadi panutan dalam berlaku disiplin. Sehingga ketika terjadi satu pelanggaran, awalnya akan muncul sikap segan dan malu sebagai faktor psikis yang muncul karena telah melakukan pelanggaran. Namun kemudian berangsur berubah menjadi rasa takut kepada Allah, dan bukan lagi pada manusia.

Pergaulan di dunia moderen saat ini, yang mana degradasi moral dan hilangnya sopan santun menggerogoti kehidupan sosial masyarakat juga menjadi satu alasan mengapa memilih pesantren sebagai tempat belajar. Menghindari jatuhnya anak-anak muda penuh potensi terjerumus jurang pergaulan bebas, karena mengikuti keingintahuan mereka tanpa dasar aqidah, sikap, dan pendirian yang kuat.

Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan, dalam sambutan ASESI Islamic Education Expo yang ke 5 di TMII mengatakan, ada tiga hal yang harus dipersiapkan untuk pendidikan di masa depan. Akhlaq atau karakter, kompetensi, dan literasi (keterbukaan wawasan). Dalam hal ini beliau menjelaskan bahwa akhlaq (karakter) itu hal yang penting dan diakui secara global. Dan ada dua macam, karakter moral dan karakter kinerja.
Kemudian, kompetisi yang beliau sebutkan tersebut ada 4K, yaitu kritis, kreatif, komunikatif, kolaboratif. Tentunya pendidikan di pesantren seperti yang telah kami paparkan sebelumnya, sangat lah efektif dalam menunjang tumbuhnya akhlaq (karakter) santri dan empat kompetensi yang disampaikan tersebut.

Dan semua ini tidak lain adalah bentuk realisasi penerapan sistem pendidikan yang ideal menurut KH Ahmad Dahlan di awal tulisan ini, bahwa "Model pendidikan yang utuh yaitu, pendidikan yang berkesimbangan antara perkembangan mental dan jasmani, antara keyakinan dan intelektual, antara perasaan dan akal pikiran, serta antara dunia dan akhirat."

Dengan demikian, dalam kaitannya dengan kondisi pendidikan di Indonesia, sudah banyak yang mulai menitik beratkan proses pendidikan pada penumbuhan karakter siswa. Namun, masih kurangnya role model di semua lembaga pendidikan menjadikan proses itu tidak berjalan maksimal. Maka, semakin urgennya hal ini sebab dikejar arus globalisasi yang kian menjadi kemudian memunculkan sifat individualis dan materialis di kalangan masyarakat, perlu diperhatikan proses pendidikan yang berorientasi pada pertumbuhan karakter. Dalam hal ini sistem pesantren telah terbukti berhasil. Banyaknya tokoh nasional yang muncul dari kalangan santri menjadi bukti nyata keberhasilan sistem tersebut.
Semoga dengan tulisan ini, telah membuka cakrawala wawasan kita bahwa pendidikan bukan hanya tentang berapa nilai yang didapatkan, namun pendidikan juga tentang apa yang sudah diaplikasikan dalam amalan-amalan yang membawa pada kehidupan yang sesungguhnya.
Allahu a'lam bisshowaab...

Menyalah Artikan Sebuah Rasa


Ketika rasa mulai membuncah, dan pemikiran tak lagi sealur dengan hati. Awalnya dunia terasa indah dan lengkap, tiba-tiba terasa kurang tanpa hadirnya. Tanpa kata dia hadir, tanpa jeda dia selalu memenuhi benak, tanpa sadar dia tak pernah beri kepastian. Apapun dilakukan untuk mendapatkannya, termasuk melanggar syariat. Semua itu dilakukan atas nama CINTA.
Cinta? Satu kata berjuta rasa, berujung lara bila tak halal, berujung surga jika dengan ridho-Nya. Jika kau tak mau lara meliputimu, maka biarkanlah rasa itu bersemayam hingga kau siap melengkapi separuh imanmu (menikah). Jangan kau jadikan dia sebagai alasan untuk bermaksiat kepada Alloh, dimana ketika kau bermaksiat kepada Alloh merasa senang dan bahagia meskipun hati kecilmu memberontak, lalu ketika musibah datang engkau menyalahkan-Nya seakan-akan dirimulah yang paling menderita di dunia padahal musibah itu datang karena ulahmu sendiri. Sungguh ironis sekali. Zaman dimana single/jomblo itu kuno, dan yang pacaran wajar. Nikah muda untuk menghindari fitnah jadi bahan omongan dan banyak yang hamil diuar nikah, konon katanya buat hadiah pernikahan. Inilah  kerusakan moral dan akhlak yang menyerang pemuda zaman sekarang.
Moral dan akhlak bahkan iman bisa rusak, dari hal-hal yang kita anggap sepele pada mulanya. Lihat saja fenomena disetiap bulan febuari yang dirayakan kalangan muda-mudi. Apakah itu?  Yups ... itulah Valentine Day. Banyak dari mereka yang tak tahu menahu asal usulnya dan hanya mengikuti kebiasaan orang terdahulunya atau hanya sekedar ingin terlihat gaul. Mari kita bahas sekilas asal usul Valentine Day.
Valentine day berasal dari perayaan pagan Lupercalia yang aktifitas utamanya adalah seks massal. Perayaan Lupercalia adalah kebudayaan pagan Romawi untuk memuja Lupercus sang Dewa Kesuburan dan Hera Dewi Pernikahan. Festival tersebut berlangsung setiap tahun pada 13 – 18 Februari. Pada puncak acaranya, laki-laki dan wanita yang mengikuti acara tersebut dipasang-pasangkan kemudian masing-masing pasangan bercinta semalam suntuk. Selain itu, mereka juga meneguk minuman keras hingga mabuk. Paus Gelasius, mengesahkan perayaan ini menjadi hari raya gereja pada tahun 496 Masehi. Karena tak sanggup menghapuskan tradisi pagan ini. Namanya pun diubah dari Lupercalian Festival menjadi Valentine Day sembari dikarang sebuah cerita St. Valentinus yang mati demi cinta. Pada tahun 1969, gereja melarang Valentine Day karena diketahui sebagai pembenaran Lupercalian Festival. 
Tetapi larangan itu terlambat karena cerita St. Valentinus telah mengakar dalam benak kaum kristiani. Parahnya lagi, kini sebagian remaja muslim juga termakan propaganda Valentine sebagai hari kasih sayang. Kendati dinamakan hari kasih sayang, tetap saja Valentine Day tidak bisa lepas dari seks bebas. Di Amerika Serikat, 14 Februari diperingati sebagai Nation Condom Week karena sadar pada hari itu banyak terjadi hubungan haram tersebut. Di Indonesia, beberapa tahun juga menjadi berita penjualan kondom meningkat tajam saat hari valentine. Na’udzubillah. [Ibnu K/bersamadakwah]
Begitu miris, ketika kita tau asal usul Valentine. Moral, akhlak bahkan iman kita rusak karena suatu perayaan yang tidak pernah diajarkan oleh agama Islam. Banyak dari kita yang terlena oleh kenikmatan sesaat dan berujung  penyesalaan yang berkepanjangan pada akhirnya. Jika benar hari kasih sayang mengapa hanya sehari? Dan dilakukan oleh sepasang kekasih saja? Padahal, dari sejak di kandungan hingga sekarang, kita dapat kasih sayang melimpah setiap hari bahkan detik tercurahkan untuk kita. Mohon direnungkan kembali, orang yang  paling berhak akan kasih sayang kita adalah orang tua bukan si Doi yang hanya bermodalkan kata-kata gombalan. Mulai detik ini, marilah kita curahkan kasih sayang kita setiap hari kepada orang tua dan orang-orang yang berjasa disekitar kita.
Semoga jadi bahan renungan  dan untuk kehati-hatian kita semua, kerana bisa saja kita terjerumus keranah yang salah. Mintalah petunjuk dan keteguhan hati kepada Alloh ta’ala, karena Allohlah yang membolak-balikan hati hamba-Nya, “Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik.” (HR.Tirmidzi 3522, Ahmad 4/302, Al-Hakim 1/525, lihat Sohih Sunan Tirmidzi III no.2792). Mari kita ubah pola pikir kita, dengan menjadi pemuda yang berkarya dan produktif untuk umat. Bukan hanya sekedar dibaca mari kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Karena, tanpa sadar hal sepele yang dianggap tidak berguna namun bisa memberi efek yang luar biasa, lihat saja valentine. Yang kita anggap hanya memberi coklat atau bunga ternyata bisa merusak moral, akhlaq bahkan iman. 
            Untuk para pemuda, jika kau belum siap berkotmitmen maka jangan pernah kau mendekat atau sekedar untuk pacaran. Simpanlah hati mu sampai kau siap, sejatinya jodoh itu datang tepat waktu tidak cepat maupun lambat. Jika sekarang masih ada hubungan maka selesaikanlah dengan baik, bisa jadi yang saat ini bersamamu bukan jodohmu melainkan jodoh orang lain. Biarlah cinta ini fitroh yang tau hanya diri kita dan Alloh, dekati sang pemilik hati. Maka Alloh akan mempermudah urusan  hamba-Nya. 
             Belajarlah dari kisah Nabi Muhammad SAW  kepada Khodijah RA, atau menyembunyikan perasaan seperti Ali dan Fatimah, atau seperti ummu sulaim dan talhah yang maharnya
adalah keimanan suaminya, sungguh indah bukan? Karena cinta tak perlu dikatakan, tapi membutuhkan keridhoan-Nya.
Semoga dengan tulisan ini, menambah wawasan dan bermanfaat bagi kita semuaa. Tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahan karena terbatasnya ilmu penulis, wallohua’lam bishowab.

(Alma Nabella SK, Alumni PP Muwahidun Angkatan 07)














Ditulis oleh: Najmuddiin Dliyaulhaq 
(Alumni 2012 - Ketum IKAMU PP Muwahidun)


"Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar! Merdeka!" Takbir menggema di akhir pidato Soetomo, seorang revolusioner dan  penggerak di hari 10 November 1945. Hari itu kini diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional, sebab banyaknya jumlah pejuang yang gugur mempertahankan kemerdekaan yang baru berjalan tiga bulan. Begitu besarnya perjuangan di Surabaya saat itu, sehingga memicu pergerakan mempertahankan kemerdekaan di segala penjuru Indonesia.

Pahlawan; itulah sebutan untuk mereka, yang telah berjuang dengan gigih dan berani dalam mengorbankan segalanya bahkan nyawa untuk membela kebenaran atau yang lemah. Seperti ribuan rakyat Indonesia di Surabaya yang gugur saat itu. Pengorbanan mereka telah menjaga nama bangsa di mata dunia dari penjajahan. Begitupun pengorbanan salah seorang guru besar Islam di Indonesia dalam menggerakkan santri-santri menjaga kemerdekaan. Beliau K.H Hasyim Asy'ari, dan kiai lainnya di Surabaya, patut kita sebut sebagai pahlawan bukan hanya karena kegigihan dan keberanian mereka dalam menggerakkan pasukan. Namun juga karena para kiai tertancap keimanan dan semangat mati syahid dalam membela tanah air dan agama di setiap hati para pejuang Muslim di Surabaya.

Jikalau kita melihat sosok K.H Hasyim Asy'ari, beliau tentunya adalah seorang guru besar bangsa Indonesia. Begitu pula sahabat karibnya K.H Ahmad Dahlan, dan kiai lainnya yang tentu tidak mungkin kita sebutkan satu-persatu. Bagaimana tidak? Dari didikan mereka lahir anak-anak muda dengan ilmu, iman, dan kecintaan terhadap agama dan bangsa. Yang kemudian menjadi pemimpin-pemimpin Indonesia. Sehingga mereka layak mendapatkan julukan "Pahlawan" yang sesungguhnya.

Bahkan setelah kemerdekaan, mereka yang ada di atas jalur yang sama seperti mereka dalam membangun peradaban, patut dijuluki pahlawan. Terutama mereka yang ada di jalur pendidikan. Maka siapa lagi kalau bukan guru dan pendidik bangsa. Dari mereka pemimpin-pemimpin muda Indonesia belajar banyak hal. Mengasah potensi dan mental, sehingga menjadi pribadi tangguh yang selalu menggunakan akal pikirannya untuk kebaikan. Juga menumbuhkan akhlaq dan iman supaya amanah serta kewajiban tak diremehkan.

Guru, pengajar, pendidik memiliki peran penting dalam sebuah peradaban. Maka layaknya sebuah tombak, para pemimpin muda itu bagaikan ujung tombak yang sedang diasah di sekolah-sekolah atau lembaga pendidikan yang lain. Dan guru adalah tongkatnya, yang mengisi kekuatan dan kemantapan tombak itu. Karena mata ujung tombak itu tidak akan tertancap kuat pada sasaran, tanpa adanya dukungan, dorongan yang kuat juga.

Bukan hanya karena permisalan di atas, namun seorang pahlawan pun butuh seorang guru, pendidik yang bisa mengarahkan secara optimal gerak para pejuang. Sebut saja seorang Pangeran Diponegoro, gerilyawan yang berkali-kali menang dalam peperangan melawan Belanda di masa penjajahan. Beliau sebagai ujung tombak perlawanan membentuk pasukan dari rakyat, menyuplai persenjataan dari rakyat, namun siapa yang yang memberikan arah dan nasihat ketika terjadi kekeliruan? Maka guru dan kiai lah yang menjadi penasihat. Kiai Maja salah seorang kiai di Yogyakarta yang juga masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Diponegoro. Yang juga menjadi perantara antara Diponegoro yang seorang anggota keluarga kerajaan dengan prajuritnya di tengah masyarakat. Sehingga, kekuatan perjuangan para pahlawan tak hanya didasari kebangsaan. Namun juga keimanan dalam menjaga kedaulatan serta kehormatan tanah kelahiran. Karena perjuangan saat itu, tak hanya melawan tentara yang membawa misi kemenangan, tapi juga misi pemurtadan.

Misal lainnya, kepemimpinan para pahlawan Islam di masa kenabian. Mereka para sahabat yang muda, yang memiliki pemikiran segar lah yang seringkali ditunjuk oleh Nabi dalam memimpin sebuah pertempuran ataupun menjadi utusan. Dan Nabi Muhammad menjadi guru dan pembimbing yang senantiasa meluruskan disetiap kesalahan.

Jadi, sejatinya awal kiprah dari sebuah karakter yang disebut pahlawan adalah adanya seorang yang memberikan ilmu dan pengetahuan, yang mengarahkan jalan perjuangan.

Guru, pendidik para pahlawan lah peran di balik layar dari berkembangnya sebuah peradaban. Tapi, adakah predikat kepahlawanan untuk mereka?  Sedangkan tidak sedikit dari para guru yang mengorbankan segala yang dititipkan Allah kepada mereka di jalur pendidikan. Pikiran, tenaga, waktu, harta dan sebagainya dengan penuh keikhlasan. Namun tak ada predikat pahlawan bagi mereka, karena memang pondasi keikhlasan perjuangan mereka telah mengalahkan segalanya, bahkan predikat kepahlawanan tak lagi dibutuhkan. Seperti kata pepatah, mereka adalah "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa".

Namun jika kita lihat saat ini, dengan kenyataan yang terjadi dan adanya bukti di media sosial. Seringkali kita dapati karakter pahlawan pada mereka mulai pudar. Sebab perkembangan zaman dan gaya hidup moderen dan hedon. Padahal jika mereka pahlawan tanpa tanda jasa itu memahami


salah satu sabda Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, “Jika seorang hamba meninggal, terputus lah amalnya, kecuali tiga hal: amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau doa seorang anak shalih untuk kedua orang tuanya”. (Hadits riwayat Muslim)

Bahwa ilmu yang bermanfaat akan senantiasa kekal pahalanya. Sehingga itu menjadi tabungan mereka di akhirat kelak. Tentunya jika ilmu yang diajarkan didasari dengan niat keikhlasan beribadah kepada Allah. Seperti halnya kedua orangtua yang dengan ikhlas membesarkan anak-anak mereka dengan impian kelak menjadi anak sholeh / solehah yang senantiasa mendoakan kedua orangtua dan bermanfaat untuk agama dan bangsa.

 Dan tentunya hal itu juga merupakan peringatan kepada kita sebagai anak muda, sebagai murid, agar selalu menghormati orangtua kita baik di rumah ataupun para guru dan pengajar kita sebagai pengganti orang tua kita di sekolah. Karena kebesaran jasa keduanya patut kita hormati, dan jasa serta pengorbanan mereka tak ternilai harganya.

  Akhir kata, marilah kita renungkan kesalahan kita kepada mereka, kemudian meminta maaf pada keduanya atas segala kesalahan kita. Karena keberkahan ilmu kita ada pada ridho-Nya kemudian mereka, para pahlawan tanpa tanda jasa.

              Jazakumullah khoiron katsir wahai para pengajar yang Allah muliakan.


“Heroes without a wisdom like a stray arrow. And the existence of teacher is a wisdom for them. So, they are behind of roles of heroes”



*Buletin UKHUWAH Ikatan Keluarga Alumni PP Muwahidun

 



Ditulis oleh: Ishmah Sabilannajah Al-Adilah (Kelas 12 IPA- PP Muwahidun)

Apabila seorang hamba melalukan kebaikan ,

Maka kebaikan lain yang berada di sebelahnya berkata,

“kerjakan aku juga “

( Ibnu Qoyyim Al-jauziyyah )

Di suatu daerah, Andalusia, Spanyol. terlihat seorang anak kecil menangis, ketika ditanya kenapa kau menangis nak? “Anak panah ku meleset paman, lalu bagaimana aku akan mengalahkan musuh musuh Islam? 20 tahun kemudian, ada seorang pemuda menangis ketika ditanya dengan pertanyaan yang sama. Jawaban pemuda itu bukan lagi tentang anak panah yang meleset, melainkan menangis karena putus cinta. Aduhai, kasihan seklai pemuda itu, yang ia pikirkan, bukan lagi masalah anak panah yang meleset, apalagi cara untuk mengalahkan musuh-musuh Islam.

Tahukan kalian, siapa gerangan orang yang menanyakan pertanyaan yang sama? Mereka tidak lain adalah musuh-musuh Islam, yang rela menunggu bertahun-tahun lamanya hanya untuk mengetahui keadaan pemuda Islam. Mengapa para pemuda? Karena di tangan para pemuda lah panji-panji umat Islam. Di tangan para pemuda lah kunci kemanangan umat Islam. Lalu bagaimana nasib negeri ini atau bahkan umat Islam, jika saat ini para pemudanya hanya diam membisu, seakan-akan masa bodoh dengan keadaan Agama Islam. Padahal hampir di setiap tikungan jalan menanti dakwah para remaja. Ironis sekali pemuda saat ini, mentalnya bukan lagi mental baja, keberanianya tidak lagi keberanian singa, dan tekadnya tidak lagi
sebulat purnama. Mereka lebih gemar mengunjungi bioskop atau tempat tempat hiburan lainya, dari pada masjid-masjid dan halaqah ilmu . Padahal Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, bahwa halaqah ilmu adalah taman surga. Manakah yang lebih indah dari pada taman surga?

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda “Aku berwasiat pada kalian agar memperlakukan para pemuda dengan baik, mereka adalah orang yang paling lembut hatinya”. Sosok pemuda, memiliki hati yang lembut dan mudah menangis. Meski memiliki hati yang lembut, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam juga memberikan tanggungjawab besar kepada para pemuda, yaitu dakwah Islam. Sebagai contoh, Muadz bin Jabal, yang diusia mudanya, Ia ditugaskan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam untuk berdakwah di Yaman. Usamah, di usia 18 tahun Ia sudah dipilih oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam untuk memimpin dalam perang penaklukan Syam. Imam Syafi’i, di usia yang sangat muda yakni 16 tahun, beliau sudah menjadi seorang yang mufti. Termasuk di dalamnya para sahabat yang dijamin masuk surga adalah para pemuda, yaitu Zubair bin Awwam yang sat itu berusia 15 tahun, Thalhah bin Ubaidillah 16 tahun dan Sa’ad bin Abi Waqash yang berusia 17 tahun. Para pemuda adalah orang yang paling cepat menerima dakwah Islam, Abu Bakar saat itu baru berusia 37 tahun. Umar bin Khathab baru berusia 27 tahun. Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Masud, Abdurrahman bin Auf, Said bin Zaid, Mush’ab bin Umair, Bilal bin Rabah, dan shabat Rasulullah lainnya berusia lebih muda dari mereka. Juru dakwah Islam yang pertama kali diutus ke Madinah adalah seorang pemuda, yaitu Mush’ab bin Umair.

Tanpa para pemuda, Islam tidak akan tersebar. Yang menghadapi orang-orang sombong ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam berdakwah, siapa lagi kalau bukan para pemuda.


Pemuda adalah kunci kejayaan bangsa ini atau bahkan  umat ini. Tidak hanya berhati lembut dan mudah menangis, seorang pemuda juga harus tegar dan percaya diri, karena dengan modal keimanan, pendahulu kita pernah menguasai peradaban dunia selama 7 abad, bahkan mampu menguasai hampir semua daratan Asia, Afrika, dan daratan Eropa. Allah Subhaanahu wa Taala berfirman dalam Q.S Ali-imron : 139 Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.

Pada kisah Ashabul Ukhdud, ketika sang penyihir tua akan meninggal, Ia berkata
Carikan aku seorang pemuda! Nah loh, pemuda lagi, bukan anak kecil bukan pula orang tua. Ini menunjukan bahwa pemuda memilikin peran yang sangat penting. Allah berfirman dalam
Q.S Ar-Rum : 54 Allah lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah , kemudia Dia
menjadikan (kamu) setelah lemah itu menjadi kuat ... Dalam tafsir ibnu katsir jilid VI, beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kedaan kuat adalah keadaan para pemuda. Sangat
disayangankan apabila para pemuda saat ini tidak tidak mengetahui bahwa mereka kuat.
Namun kenyataannya mereka saling mengejek dan mengolok-olok. Padahal Allah Azza wa Jalla berfirman dalan Q.S As-Saff : 4 Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur , mereka sakan akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh   Mereka berpikir bahwasanya dakwah Islam adalah tugas para ustadz dan kiyai. Padahal, para pemuda masih memiliki peluang yang besar untuk memenangkan pergulatan global dan menjadikan Islam jaya. Selama para pemuda tetap berkomitmen untuk menjadikan Al-Quran sebagai panglima mereka.

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah menyebutkan dalam kitabnya yang berjudul Shifwah Ashofwa, bahwa salah satu obat hati adalah mujalasah ash-shalihin (berkumpul dengan orang- orang shalih), karena itu memiliki beberapa keuntungan:

1.   Akan memicu diri berperilaku shalih seperti mereka
2.   Saling mengambil manfaat yang baik
3.   Saling mengingatkan jika tergelincir melakukan kesalahan
4.   Saling menyemangati untuk berfastabiqul khoirot .

Sejenak, mari kembali pada tahun 8 Hijriyah. Dimana terjadi perang Mutah, ketika jendral Islam yaitu Zaid bin Haritsah syahid. Laksana kilat, seorang pemuda mengambil dan memegang bendera perang, pemuda itu tidak lain adalah Ja’far bin Abi Thalib sang juru bicara ketika hijrah ke Habasyah, meskipun kedua tanganya telah habis ditebas musuh, Ia masih berjuang. Itu karena sebab apalagi, selain kecintaanya pada Islam . Itulah jiwa pemuda yang sebenarnya, mempunyai semangat yang sangat besar.

Wahai pemuda,

Berbahagialah kala engkau menjadi pejuang dakwah

Berbahagialah!

Karena pengorbanan kita bukanlah kesia-siaan

Kita lelah, bercucuran peluh, namun layak berbangga

Karena mengisi hidup dengan aktivitas bermakna nan mulia

Berdakwah,

Akan menjadi penawar lelah bagi seorang muslim

Ia akan merasakan kebahagiaan saat berdakwah


Karena apa yang dilakukan akan bernilai ibadah dan berpahala

Biapun lelah, tapi Lillah ..



Wahai para pemuda ,

Kita lah , sosok yang di nantikan Syurga



Wallahualam..