WHAT'S NEW?
Loading...

Keislaman Hindun binti Utbah di Lantai Sirah



 Siapa yang tak kenal dengan Hindun binti Utbah?
Seorang wanita Quraisy yang tega mengunyah jantung sang Singa Allah Hamzah bin Abdul Muthalib saat perang uhud. Istri pemuka quraisy yang paling di segani pada masa itu. Wanita yang paling membenci islam selama kurang lebih 20 tahun.
Lantas, apakah Hindun binti Utbah selamanya menjadi seorang kafir Quraisy?
Jawabannya ialah TIDAK. Allah maha Besar, dengan kebesaran-Nyalah mampu merubah Hindun binti Utbah menjadi “Orang Terbaik Pada Masa Jahiliyah Menjadi Orang Terbaik Pada Masa Islam”.
 
Di sinilah segalanya  bermula.
 
 
                Ketika Rasulullah saw, masuk ke kota Mekkah sebagai pemenang, beliau menyuruh abu sufyan (suami Hindun) agar menyuruh kaumnya untuk menyerah. Di saat itulah islam masuk ke dalam hati Abu Sufyan. Ia menemui Rasulullah saw seraya berkata,” Wahai Rasulullah, hancur sudah Quraisy. Besok yang tersisa dari Quraisy tinggal namanya saja.” Rasulullah saw berkata,” Siapa yang masuk rumah Abu Sufyan, maka dia selamat. Siapa yang meletakan senjata, maka dia selamat. Siapa yang masuk ke dalam rumahnya, maka dia selamat.”
                Setelah Allah meluluhkan hati suaminya, kini saatnya Allah mulai membuka hati Hindun untuk menerima islam. Ia berkata kepada suaminya Abu Sufyan,”Aku ingin menjadi pengikut Muhammad.” Abu Sufyan membalas,”Kemarin, aku melihat engkau sangat membenci mengucapkan kata-kata seperti itu.”  Hindun berkata,”Demi Allah, aku tidak pernah melihat pemandangan manusia menyembah Allah dengan sebenar-benarnya di dalam masjid, seperti yang ku lihat tadi malam.”
                ‘Aisyah ra mengisahkan,” Hindun datang kepada Nabi saw seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, demi Allah, selama ini tidak ada golongan di dunia ini yang palng aku  harapkan agar Allah membinasakannya, daripada golonganmu. Tetapi, hari ini, tidak ada golongan di dunia ini yang paling aku harapkan agar Allah memuliakannya, daripada golonganmu,” Rasulullah saw membalas,”Begitu juga aku. Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya.”(H.R Muslim no.8 dan 1714 kitab Al Aqdhiyah bab Qadhiyat Hindin)
                 Setelah Allah memberikan kemenangan kepada kaum Muslimin, penduduk makkah menyadari kebenaran yang selama ini mereka ingkari. Mereka mengetahui bahwa tidak ada jalan keselmatan selain islam. Karena itu mereka bersedia memeluknya dan berkumpul untuk berbaiat kepada Rasulullah saw. Salah satu dari mereka tidak lain ialah Hindun binti Utbah.
Subhaanallah, sungguh besar kekuasaan Allah ta’ala. Yang mampu meluluhkan hati seorang seperti Hindun binti Utbah yang telah mengeras sebab kebeciannya terhadap islam selama 20 tahun.

*** 

Ditulis oleh Khairil Amin (Alumni Muwahidun angkatan 5), untuk ikamu-muwahidun.blogspot.com


Hujan, Nikmat yang Dicela


 Fenomena jatuhnya ratusan ribu liter kubik air dari angkasa luas atau yang lebih dikenal dengan sebutan hujan adalah salah satu bentuk fenomena alam yang begitu lumrah terjadi di negeri kita, Indonesia. Bahkan wilayah tempat kita bernanung saat ini, begitu masyhur dengan julukan kota hujan, karena intensitas air hujan yang begitu melimpah setiap tahunnya.

Selain basah dan hawa segar yang ditebarkan setelah rinai hujan menitik ke bumi. Hujan juga selalu bisa membawa gagasan dan inspirasi bagi para pecinta seni. Sebut saja Sapardi Djoko Samono, Gus Candra maupun penulis anyar yang sedang naik daun, Tere Liye yang telah mengabadikan hujan dalam beberapa karya fenomenalnya. Begitu dahsyatnya peristiwa alam yang satu ini.

Namun tahukah bahwa fenomena yang termat lazim tersebut, memiliki proses alam yang begitu rumit?

Diawali dari proses penguapan air laut ke angkasa, yang kemudian berkumpul dalam satuan jumlah tertentu menjadi awan-awan yang melayang bersih di udara. Apabila uap air di dalam awan tersebut telah mencapai titik jenuh, maka selanjutnya ia akan berkondensasi menjadi air yang kemudian dijatuhkan ke bumi sebagai air hujan.

Proses ilmiah terjadinya hujan sebagaimana yang telah diswbutkan di atas, telah dijelaskan dalam Al-Quran Surat Ar-Ra’d ayat 13-17. Maha Besar Allah yang telah berkehendak untuk menciptakan zat liquid yang begitu penting bagi kehidupan makhlukNya.

Lantas bagaimana Islam memaknai hujan di dalam Al-Qur’an?

Allah berfirman dalam Surat Qaaf ayat 9-11, yang artinya:

“Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.”

Di dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa hujan merupakan suatu rizqi yang Allah anugerahkan bagi seluruh makhlukNya.

Bagaimana air dari titik hujan tersebut dapat menumbuhkan biji-biji padi hingga menjadi bulir-bulir sumber nafkah bagi kehidupan keluarga petani. Lalu dari padi-padi itu, manusia bisa melangsungkan aktivitasnya setelah mengolahnya menjadi nasi. Dari berbagai aktivitas manusia tersebut, dihasilkan beragam produk, jasa maupun layanan yang begitu bermanfaat dan saling bersinergi demi keseimbangan umat.

Betapa besar peran setitik air hujan bila kita bisa memaknai secara mendalam.

Lalu.. apakah hanya karena motor dan mobil yang baru saja kita cuci, sepatu yang baru disemir rapi, lantas kita berhak mencaci sumber rahmat yang teramat besar dari Ilahi?

Hitunglah berapa banyak rintik hujan yang menitik ke bumi, maka sebanyak itu pula rahmat Allah yang menghujani”

Wallahu Ta’ala A’lam

Ditulis oleh: Nurul Q  (Mahasiswi Jurusan PGMI UIKA Bogor- Alumni Ponpes Muwahidun ke-6)

Salah Satu Alumni Tidak Melanjutkan Studinya di LIPIA, Kenapa?

IkamuNews|Jakarta,15 Maret 2017 - Alhamdulillah, segala puji bagi allah yang telah mengatur kehidupan dengan begitu indahnya. Sehingga manusia bisa merasakan nikmat yang luar biasa. Shalawat dan salam semoga selalu kita sampaikan kepada nabi kita muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Seperti nikmat yang lainnya, belajar adalah suatu kenikmatan yang lain. Terlebih lagi belajar di negeri berdirinya masjid nabawi tempat berhijrahnya nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Satu nikmat dan rizki yang tiada tara untuk seorang penuntut ilmu (syar'i).
Dan kalimat "alhamdulillah" lah yang terucap ketika untuk kedua kalinya, salah satu dari Alumni Ponpes Muwahidun yang melanjutkan studi di LIPIA diterima untuk melanjutkan studi di Universitas Islam Madinah tahun ajaran 1438/1439 H. Yang mana sesuai data sementara (hingga siang waktu KSA) yang sudah masuk di pengumuman resmi website Univ. Islam Madinah untuk Indonesia, berjumlah mencapai 303 nama calon mahasiswa, tadi siang secara resmi melalui website resmi Universitas Islam Madinah:

http://admission.iu.edu.sa/IuperviousAbroadInquery.aspx

Sayangilah Hewan Peliharaanmu



Allah menciptakan dunia ini dengan segala keindahan isinya. Meliputi tujuh lapis langit yang membiru. Hamparan padang rerumputan yang meluas, samudra dengan airnya yang selalu bergejolak. Dan tak lupa, para hewan yang melata di permukaan bumi ini.

Banyak sekali jenis hewan yang ada, sebagiannya buas dan liar, dan sebagian yang lain jinak bahkan lucu dan menggemaskan.
Sebagian orang menjadikan beberapa hewan menjadi peliharaan, penghias rumah dan kehidupan. Namun, mereka juga punya hak yang harus dipenuhi beberapa di antaranya adalah memberi hewan tadi makanan serta minuman. Jika tidak, hendaknya hewan itu dilepaskan agar dia bisa mencari makanannya sendiri.
Hewan adalah makhluk yang lemah dan terbatas kekuatannya. Mereka juga bisa merasakan beberapa hal yang dirasakan oleh manusia. Selain itu, mereka juga bisa merasakan sakit sebagaimana manusia yang merasakan sakit.
Maka, tidaklah diperbolehkan bagi manusia untuk menyakiti mereka.

Dalam sebuah hadits, diceritakan tentang seorang wanita yang mengurung kucing peliharaannya hingga akhirnya kucing itu mati.
Dari Abdullah Ibnu Umar Rhodiyallahu anhuma, sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Seorang wanita, diadzab sebab seekor kucing yang yang dikurungnya sampai mati. Maka, dia masuk neraka karenanya. Karena, dirinya tidak memberi kucing itu makanan atau minuman ketika mengurungnya, dan tidak pula melepaskannya agar kucing itu memakan hewan-hewan tanah." 
(Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhori, Muslim, dan Ibnu Majah)
Wanita itu, memelihara seekor kucing. Namun, dia tidak memberikan haknya hingga akhirnya kucingnya mati kelaparan. Bukankah itu merupakan salah satu yang menyiksa kucing tadi?
Maka, karena itulah Allah menyiksanya sebab perbuatannya tersebut.
Di dalam hadits yang lain, seorang pendosa diampuni dosa-dosanya karena jasanya memberikan minum bagi seekor anjing yang kehausan.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda, “Ketika seorang laki-laki sedang berjalan, dia merasakan kehausan yang sangat, lalu dia turun ke sumur dan minum. Ketika dia keluar, ternyata ada seekor anjing sedang menjulurkan lidahnya menjilati tanah basah karena kehausan. Dia berkata, ‘Anjing ini kehausan seperti diriku.’ Maka dia mengisi sepatunya dan memegangnya dengan mulutnya, kemudian dia naik dan memberi minum anjing itu. Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kita bisa meraih pahala dari binatang?” Beliau menjawab, “Pada setiap hati yang basah terhadap pahala.”
(Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitabul Musaqah, bab keutamaan memberi minum, 5/40, no. 2363)
Inilah dua hal kebalikan yang seringkali kita anggap kecil. Ya, hal kecil itu adalah tentang mengasihi hewan.
Bisa jadi, interaksi kita dengan hewan membawa kita pada ampunan Allah atau bisa juga sebab kita berlumur dosa.
Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang bisa mengasihi segala sesuatu yang Allah ciptakan di dunia ini.

***
Ditulis Oleh Ahmad Yusuf Abdurrohman, untuk ikamu-muwahidun.blogspot.com

Lafadz InsyaAllah yang Sering Terucap


Sebagai seorang muslim, tentu kita familiar dengan lafadz 'Insyaallah' serta makna yang terkandung di dalamnya. Lafadz ini, dipakai saat mengucap janji atau saat merencanakan sesuatu di masa depan. Namun, dewasa ini sebagian umat muslim sudah enggan mengucapkannya. Bahkan, ketika ada yang mengucapkannya banyak pendengar yang merasa tidak suka.
Hal ini, pernah dialami oleh penulis sendiri. Suatu ketika, Saya pernah berjanji dengan mengucap 'Insyaallah', lalu orang yang kuberi janji menjawab "Janganlah  'insyaallah'lah aku beneran ini."
Begitulah, lafadz yang begitu agung ini mulai dianggap sebagai lafadz pengganti bagi kata 'Tidak' saat berjanji.
Hal tersebut, terjadi bukan tanpa sebab. Orang yang berjanji dan tidak besungguh-sungguh atau ragu dengan janjinya kebanyakan akan mencari aman dengan mengucap 'insyaallah'.
Misalkan, jika kita diajak teman ke suatu tempat dan merasa malas atau tidak ingin datang, maka kita akan menolak secara halus dengan mengucap 'insyaallah'.
Sehingga, pada akhirnya orang yang diberi janji tidak akan percaya lagi dengan lafadz tersebut. Padahal, Allah  memerintahkan  mengucapkan 'Insyaallah' dan melarang kita untuk tidak mengucapkanya saat berjanji. Dan apabila sudah terlanjur  tidak mengucapkan karena lupa maka boleh diucapkan saat ingat.  
Menurut riwayat, ada beberapa orang Quraisy bertanya kepada Nabi tentang kisah Ashabul Kahfi dan Zulqarnain. Lalu nabi menjawab, "Datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan." Namun, Rasulullah tidak mengucap 'Insyaallah'. Dan apa yang terjadi?
Hingga esok harinya, Allah tidak menurunkan wahyu tentang dua kisah tersebut sehingga Nabi tidak bisa menjawab pertanyaan dari orang-orang Quraisy.
Lalu, Allah menurunkan surat Al Kahfi ayat 23 dan 24 untuk memberi pelajaran kepada Nabi dan kita semua tentang pentingnya mengucap 'insyaallah' ketika berjanji melakukan sesuatu di masa depan.


...dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu, “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “In sya' Allah” dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan Katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.”
(Surat Al Kahfi :23-24)
Lalu, bagaimana jika dikaitkan dengan kondisi saat ini di mana orang sudah menganggap pengucapan 'insyaallah' sebagai ketidakseriusan dalam berjanji?
Yang bisa dilakukan saat ini, adalah membenahi diri. Bagi pengucap lafadz ini, jangan jadikan sebagai kedok dari kata tidak atau malas. Tapi, bersungguh-sungguhlah untuk menepati janji. Sehingga, bagi pendengar tidak akan berpikiran negatif lagi saat diberi janji.
Jadi, jangan ragu lagi ya untuk mengucapkanya dan saat mendengarnya.
 
*** 

Ditulis Oleh Faza Fauzana, untuk ikamu-muwahidun.blogspot.co.id

Tentang Bersalaman


Salah satu amalan yang diremehkan umat Islam ini adalah bersalaman. Perbuatan ini, hampir tidak memiliki arti penting di dalam diri seorang muslim. Apa lagi, zaman sekarang banyak muslim yang menyepelekan hal kecil ini. Padahal, jika saja kita mengetahui rahasia dibalik bersalaman, pasti kita berlomba-lomba  untuk melakukannya.
Mau tahukah apa rahasia tersebut? Mari kita simak salah satu hadis Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam berikut.
"Tidak ada dua orang yang bertemu, lalu berjabat tangan melainkan pasti diampuni untuk keduanya sebelum mereka berpisah."

(Hadits ini diriwayatkan Tirmidzi 2727, dan Abu Daud 5212) 
Subhanallah . . . Siapa coba yang membayangkan, bahwa berjabat tangan bisa menjadi salah satu sebab diampuninya dosa kita?
Tidak ada, kecuali kita wahai saudaraku. Maka dari itu, setelah kita mengetahui hadis ini, mari kita mengamalkannya. Tetapi, ingat! Jangan lupa niat kita ketika bersalaman, yaitu mengharap terampuni dosa-dosa kita.

***


Ditulis oleh Isa Islami, untuk ikamu-muwahidun.blogspot.co.id

Iman Kepada Malaikat




Oleh: Alumni Muwahidun di LIPIA

             Iman secara bahasa merupakan isim masdar dari kata آمَنَ , sedangkan secara syar’i (istilah)  ialah keyakinan dalam hati, ikrar dalam ucapan, dan amal dengan segala anggota tubuh.
            Malaikat merupakan salah satu ciptaan Allah, diciptakan dari cahaya, dan ada untuk berkhidmah kepada Allah, melaksanakan segala perintah Allah, tanpa ada kemampuan untuk bermaksiat kepada-Nya.
            Bagi setiap muslim, kata iman dan islam sudah tidak asing lagi ditelinga mereka. Rukun iman ada 6 dan rukun islam ada 5. Dan salah satu rukun iman yang enam itu ialah iman kepada malaikat. Dengan demikian maka bagi setiap muslim wajib untuk menyakini malaikat itu ada, diciptakan dari cahaya dan tidak punya hawa nafsu. Sehingga tidak mungkin bagi malaikat untuk bermaksiat atau melakukan segala hal menurut kehendak mereka sendiri.
            Banyak sekali dalil yang menunjukkan kewajiban beriman kepada malaikat, diantaranya:

ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٖ مِّن رُّسُلِهِۦۚ وَقَالُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۖ غُفۡرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيۡكَ ٱلۡمَصِيرُ ٢٨٥

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali" [Al Baqarah: 258],

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ءَامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ مِن قَبۡلُۚ وَمَن يَكۡفُرۡ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلَۢا بَعِيدًا ١٣٦

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. [Surat Annisa: 136]
           
      Iman kepada malaikat, juga berarti harus percaya bahwa malaikat mempunyai nama, baik yang disebut dalam nash maupun yang tidak disebut dalam nash. Selain memiliki nama, malaikat juga mempunyai sifat-sifat khusus. Sebagaimana tertulis dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Abdullah bin mas’ud, bahwasanya Jibril mempunyai 600 sayap yang dapat menutupi cakrawala.
Kemudian bisa juga dilhat dalam hadits arbain nawawi, hadits kedua yang membahas tentang iman,islam da ihsan, di dalam hadits tersebut Jibril merubah diri menjadi sosok lelaki.
            Salah satu tujuan diciptakannya malaikat, ialah untuk berkhidmah kepada Allah, melaksanakan segala perintah-Nya. Sehingga tidak aneh, jika setiap malaikat mendapat tugas-tugas khusus dari Allah. Seperti Jibril, yang Allah tugaskan kepadanya untuk menyampaikan wahyu kepada para nabi dan rasul, ataupun Malik dan para pembantunya yang ditugaskan untuk menjaga neraka sebagaimana terdapat dalam alquran: 

 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سَقَرُ ٢٧ لَا تُبۡقِي وَلَا تَذَرُ ٢٨  لَوَّاحَةٞ لِّلۡبَشَرِ ٢٩  عَلَيۡهَا تِسۡعَةَ عَشَرَ ٣٠ وَمَا جَعَلۡنَآ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ إِلَّا مَلَٰٓئِكَةٗۖ وَمَا جَعَلۡنَا عِدَّتَهُمۡ إِلَّا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ لِيَسۡتَيۡقِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَيَزۡدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِيمَٰنٗا وَلَا يَرۡتَابَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَلِيَقُولَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ وَٱلۡكَٰفِرُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۚ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ وَمَا يَعۡلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَۚ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡبَشَرِ ٣١

Tahukah kamu apakah (neraka) Saqar itu? (27) Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (28) (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. (29) Dan di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga) (30) Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al Kitab dan orng-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): "Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?" Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia.(31) [Al Mudassir: 27-31]
 
Atau malaikat maut yang ditugaskan oleh Allah untuk mencabut nyawa makhluk-Nya
 
۞قُلۡ يَتَوَفَّىٰكُم مَّلَكُ ٱلۡمَوۡتِ ٱلَّذِي وُكِّلَ بِكُمۡ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ تُرۡجَعُونَ ١١

Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan". [Assajadah: 11]

            Pada intinya, iman kepada malaikat mengandung 4 unsur:
1.     Iman (menyakini) akan keberedaan mereka,
2.     Iman (menyakini) sifat-sifat mereka,
3.     Iman (menyakini) nama-nama mereka,
4.     Iman (menyakini) tugas-tugas mereka.
Dan ke-empat unsur diatas harus dengan landasan dalil yang terdapat dalam alquran dan hadits.

Allahu a’lam bisshawab

Syirik dan Macam-Macamnya

      Kebalikan dari tauhid adalah syirik. Sedangkan definisi syirik itu sendiri adalah melaksaakan suatau amal ibadah yang ditujukan kepada selain allah ta'ala. Syirik sesuai jenisnya dibagi menjadi tiga macam: syirik besaar, syirik kecil, dan syirik yang tersembunyi.

      1. Syirik Besar
Syirik besar adalah menyamakan Allah dengan selain-Nya dalam hal yang hanya khusus milik Allah. Syirik besar merupakan dosa yang paling besar. Setiap pelakunya kekal dalam api neraka, kecuali ia bertaubat. Dari bentuk amalnya syirik besar dibagi lagi menjadi tiga:

            a. Syirik Doa
      Yaitu berdoa kepada selain Allah. Seperti berdoa kepada para wali dan orang-orang shalih yang telah meninggal. Dengan maksud, doa kepada mereka itu dapat memenuhi kebutuhan pelaku syirik. Sebagaimana Allah berfirman di dalam Al quran: "Yang mereka sembah selain allah itu tidak lain hanyalah inaasan (berhala), dan mereka tidak lain hanyalah menyembah setan yang durhaka." [An Nisa: 117]. Di dalam ayat yang lain allah juga berfirman: "Dan sesungguhnya masji-masjid itu adalah untuk allah. Maka janganlah kamu menyembah apapun di dalamnnya selain allah." [Al Jinn: 18].

            b. Syirik Niat
      Bentuk konkret dari syirik niat adalah ketika seseorang mengambil sesuatu (misalkan batu) dari salah satu kuburan para wali yang tela meninggal. Dengan batu itu ia mengharapkan rasa aman ketika berpergian. Dan berkeyakinan bahwa hal tersebut (rasa aman) disebabkan karena batu itu dan Allah. Sebagaimana yang terdapat  di dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Basyir: "Sesungguhnya Abu Basyir mengabarkan bahwa ia pernah beberapa kali melakukan safar bersama Rasulullah. Abu Basyir berkata: Rasulullah mengutus seorang utusan, memerintahkannya untuk tidak menyisakan kalung ataupun tali kekang unta di lehernya (untuk jimat)."
Dan contoh yang lain dalam syirik niat itu, ketika seseorang mencalonkan dirinya sebagai salah satu pemimpin (wakil rakyat). Dan bermaksud untuk melakukan korupsi setelah terpilih. Serta ada keyakinan dalam dirinya bahwa hal yang ia lakukan adalah diperbolekan. Maka dia telah masuk dalam lingkaran kesyirikan. Karena Allah telah berfirman: "Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna)  dan merka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali meraka, dan sia-sialah apa yang mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan." [hud: 15-16]

            c. Syirik Ketaatan
      Maksudnya adalah taat dalam melakukan kemaksiatan. Seperti taat kepada pemimpin untuk memenjarakan da'i yang menyeru kepada "kalimat tauhid".  Allah berfirman: "Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi), dadn rahib-rahibnya (Nasrani)  sebagai tuhan selain allah*, dan (juga) Al - Masih putra maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada tuhan selain Dia. Maha suci Dia dari apa yang mereka perekutukan." [At Taubah: 31]. Juga seperti taatnya para ulama dan pemimpin dalam perkara kemasiatan. Sebagaimana Rasulullah menafsirkan makna ketaatan ini ketika ditanya 'Adiy bin Hatim tentang perkara ini. 'Adiy bin Hatim berkata: "Kita tidaklah menyembah mereka (ulama atau pemimpin)" , kemudian Rasulullah menjelaskan kepadanya bahwa yang dimasud beribadah kepada mereka (ulama atau pemimpin), adalah taat kepada mereka dalam perkara-perkara kemaksiatan.

      2. Syirik Kecil

      Syirik kecil adalah apa saja yang disebut sebagai syirik oleh nash Al-Qur’an dan hadits dan tidak sampai pada derajat syirik besar. Yang dimaksud syirik kecil adalah riya (pamer). Dan dalil yang menerangkan hal ini adalah hadits nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Sesungguhnya hal yang paling aku takutkan dari kalian adalah syirik kecil." Para sahabat kemudian bertanya: "Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah?" Rasulullah menjawab: "Riya (pamer)" [Diriwayatkan Ahmad dari Mamud bin Labiid]

      3. Syirik yang Tersembunyi

      Rasulullah bersabda: "Syirik pada umat ini lebih samar dari seekor semut hitam yang berada di atas batu hitam, dalam kegelapan malam". Ibnu Abbas menjelaskan bahwa contoh dari syirik ini adalah perkataan "ما شاء الله وشئت " (apa yang allah dan kamu kehendaki).
      Adapun penghapus dari dosa syirik ini sabda Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam: "Ya Allah, aku berlindung dari kepadaMu dari menyekutukanMu pada sesuatu sedangkan aku mengetahui. Dan aku memohon ampun kepadaMu atas dosa yang tidak aku ketahui.”

      Demikianlah sedikit tulisan mengenai masalah syirik dan macamnya, kita memohon kepada Allah agar menjauhkan kita semua dari syirik dan segala hal yang mengantarkan kepada syirik. Kita juga memohon kepada Allah agar menganugrahkan kepada kita semua akidah yang lurus dan iman yang kuat yang dengannya dan dengan izin Allah kita bisa menghindari fitnah-fitnah syubhat dan syahwat.

      Terakhir, kami memohon kepada Allah agar apa yang telah kami tulis dan sampaikan ikhlas hanya mengharapkan wajah Allah. Wallahu a’lam bishshowab

IBADAH (BAGIAN 3 - HABIS)

Oleh : Hamzah (Alumni Angkatan 6)
(tulisan ini banyak disarikan dari Al-Mufid Fi Muhimmaatit Tauhid-pdf, oleh syaikh Abdul Qodir bin Muhammad Atho Shufi)

Sebagaimana penjelasan yang telah lalu, bahwasannya ibadah tidak hanya terbatas pada rukun islam saja, akan tetapi ibadah mencakup seluruh amalan seorang hamba, jika amalan tersebut memenuhi 2 syarat diterimanya ibadah. Al-Imam Ibnu Qoyyim - semoga Allah Y merahmati beliau - dalam Ighotsatul Lahfan mengatakan :
قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: مَا مِنْ فِعْلَةٍ - وَإِنْ صَغُرَتْ- إِلاَّ يُنْشَرُ لَهَا دِيوَانَانِ؛ لِمَ ؟ وَكَيْفَ ؟ أَي: لِمَ فَعَلْتَ ؟ وَكَيْفَ فَعَلْتَ ؟ فاَلأَوَّلُ: سُؤَالٌ عَنِ الإِخْلاَصِ، وَالثَّانيِ: عَنِ الْمُتَابَعَةِ، فَإِنَّ اللهَ لاَ يَقْبَلُ عَمَلاً إِلاَّ بِهِمَا
“sebagian ulama’ salaf mengatakan : Tidaklah suatu perbuatan -betapa pun kecilnya- kecuali akan dihadapkan pada dua pertanyaan: Kenapa dan bagaimana?" Maksudnya, mengapa engkau melakukannya dan bagaimana kamu melakukannya? Yang pertama merupakan pertanyaan tentang keikhlasan dan yang kedua pertanyaan tentang mutaba'ah kepada Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam, karena sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amalan pun kecuali dengan syarat keduanya.” (diringkas dari Ad-Bid’ah wa atsaruhas sayyi’ fil ummah-pdf, hal 54-55 oleh Syaikh Salim bin ‘Id al-Hilali)

Jenis – Jenis Ibadah
Secara umum jenis ibadah ada dua, sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikhuna KH. Abdul Wahid Hasyim - semoga Allah Y menjaga beliau - dalam kitab beliau Al-Burhan fi Masailil Iman jilid 2 :
1.        A’maalul Quluub (Amalan/Ibadah Hati)
Maksud amalan hati adalah seperti iman, cinta, takut, berharap, taubat dan tawakkal.
2.        A’maalul Jawaarih (Amalan/Ibadah Anggota Tubuh)
Yaitu amalan – amalan anggota tubuh seperti sholat, jihad, haji, membantu orang lemah, berbuat baik pada makhluk lain dan semisalnya. (Al-Mufid Fi Muhimmaatit Tauhid-pdf, hal. 96 oleh syaikh Abdul Qodir bin Muhammad Atho Shufi)
Dari dua jenis ibadah tersebut, ibadah hatilah yang lebih agung dan lebih utama. Syaikh Abdullah Al-Habr –Rois Qism Syari’ah LIPIA- dalam khutbah beliau mengatakan :
A’maalul Quluub lebih utama dan lebih agung dari pada A’maalul Jawaarih, karena jika amalan hati seseorang baik, maka baiklah amalan jasadnya dan jika rusak amalan hati seseorang, maka rusaklah amalan jasadnya. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah r :
((ألاَ وَإنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ , وَإذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ , ألاَ وَهِيَ الْقَلْبُ ))
Ingatlah bahwa dalam jasad ada sekerat daging jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati ”
Lebih rinci lagi, Syaikh Abdul Qodir bin Muhammad Atho Shufi menyebutkan lima macam ibadah ;
1.        Ibadah I’tiqodiyah (keyakinan)
Yaitu meyakini segala sesuatu yang telah dikabarkan oleh Allah Y tentang diri-Nya, dan juga yang telah Rasulullah e kabarkan mengenai Tuhannya; tentang nama Allah, sifat dan perbuatan-Nya, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, bertemu dengan-Nya dan yang semisalnya. Dalilnya surat Al-Baqoroh ayat 177.
2.        Ibadah Qolbiyyah (ibadah hati)
Yaitu amalan hati seperti mencintai Allah Y, tawakkal, taubat, takut, berharap, ikhlas, sabar dan amalan hati lainnya yang hanya boleh ditujukan kepada Allah Y semata. Dalilnya surat Al-Maidah ayat 23, Az-Zumar ayat 54, Ali Imran ayat 200.
3.        Ibadah Qouliyyah (perkataan)
Seperti mengucapkan kalimat ikhlas “laa ilaaha illallah”, berdo’a, berdzikir, membaca Al-Qur’an dan semisalnya. Dalilnya surat An-Nahl ayat 98 dan 125, Ghofir ayat 60.
4.        Ibadah Badaniyyah (perbuatan)
Yaitu amalan anggota tubuh seperti sholat, jihad, haji, membantu orang lemah, berbuat baik pada makhluk lain dan semisalnya. Dalilnya surat Al-Hajj ayat 29 dan 77, Al-Jumu’ah ayat 9.
5.        Ibadah Maliyyah (materi)
Seperti berzakat karena melaksanakan perintah Allah Y, memenuhi nadzar, jihad dengan harta dan semisalnya. Dalilnya surat Al-Baqoroh ayat 110, At-Taubah ayat 41, Al-Insan ayat 7. (Al-Mufid Fi Muhimmaatit Tauhid-pdf, hal. 95-96 oleh syaikh Abdul Qodir bin Muhammad Atho Shufi)
Dengan demikian, ibadah mencakup semua ruang kehidupan seorang hamba , bahkan mencakup hidup dan matinya. Allah Y berfirman :
((قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ))
“Katakanlah: "Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)".”(QS Al-An’aam : 162-163)
Itulah sedikit dari penjelasan mengenai jenis – jenis ibadah. Semoga paparan yang ringkas ini bisa menjadi secercah cahaya penerang di dalam masalah ini dan meneguhkan kita di atas jalan yang haq.
Akhirnya, kami memohon kepada Allah Y dengan asma-asmaNya yang indah dan sifat-sifatNya yang luhur agar senantiasa memperbaiki amal ibadah kita dan juga menganugrahkan kepada kita semua keikhlasan dalam beramal dan beribadah. Dan semoga Allah Y selalu memberikan taufiq kepada kita semua kaum muslimin agar mentaati Allah Y dan RasulNya sesuai apa yang Rasulullah r ajarkan. Wallahu a’lam bishshowab.

IBADAH (BAGIAN 2)

Oleh : Hamzah (Alumni Angkatan 6)
(tulisan ini banyak disarikan dari Al-Mufid Fi Muhimmaatit Tauhid-pdf, oleh syaikh Abdul Qodir bin Muhammad Atho Shufi dan At-Tauhid Al-Muyassar-pdf,oleh Abdullah bin Ahmad Al-Huwail)
Kesempurnaan suatu ibadah bergantung pada rukunnya. Jika semua rukun terpenuhi, sempurnalah ibadahnya. Dengan kata lain, ibadah yang dilakukan tidak hanya sekedar menggugurkan kewajiban atau menjalankan sunnah saja, namun memang benar-benar dilakukan dengan ihsan untuk mendekatkan diri kepada Allah U.

RUKUN-RUKUN IBADAH
Para ulama’ mengatakan;
(مَنْ عَبَدَ اللهَ بِالْحُبِّ وَحْدَهُ فَهُوَ زِنْدِيْقٌ، وَمَنْ عَبَدَ اللهَ بِالرَّجَاءِ وَحْدَهُ فَهُوَ مُرْجِئٌ، وَمَنْ عَبَدَ اللهَ بِالْخَوْفِ وَحْدَهُ فَهُوَ حَرُوْرِيٌّ، وَمَنْ عَبَدَهُ بِالْحُبِّ وَالْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ مُوَحِّدٌ)
“barang siapa menyembah Allah hanya dengan hubb (rasa cinta) saja maka ia zindiq, barang siapa menyembah Allah hanya dengan roja’ (berharap) saja maka ia murjiah (madzhab yang meyakini bahwa dosa tidak berpengaruh pada iman), barang siapa menyembah Allah hanya dengan khouf (rasa takut) saja, maka ia haruriah (sekte khowarij yang mempunyai keyekinan-keyakinan batil, diantaranya menghukumi syariat dengan akal), dan barang siapa menyembah Allah dengan hubb, roja’, dan khouf, maka ia adalah seorang mukmin yang bertauhid” (Al-‘Ubudiyyah-pdf, hal. 99-100, oleh Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah)
1.        Mahabbah (cinta)
Mahabbah berarti cinta kepada Allah U, artinya mendahulukan kehendakNya atas segala sesuatu. (Al-Mufid Fi Muhimmaatit Tauhid-pdf, hal. 97 oleh syaikh Abdul Qodir bin Muhammad Atho Shufi)
Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah -semoga Allah U merahmatinya- mengatakan, “telah kami paparkan bahwasannya mahabbatullah adalah mencintaiNya dan mencintai apa yang dicintaiNya, sebagaimana terdapat dalam Shohih Bukhori dan Muslim, dari Nabi r bahwasannya Beliau r bersabda;
(ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ : مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَمَنْ كَانَ يُحِبُّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَمَنْ كَانَ يَكْرَهُ أَنْ يَرْجِعَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ الله مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُلْقَى فِي النَّارِ)
Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman : dijadikannya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya. Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Dan dia benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke neraka (Al-‘Ubudiyyah-pdf, hal. 97 oleh Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah) 
Mahabbah (cinta kepada Allah U) mempunyai dua tanda, yaitu :
1.      Ittiba’ur Rasul (mencontoh Rasul)
Allah berfirman ;
(قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ)
“katakanlah (Muhammad), ‘jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu.....’” (QS Ali Imran : 31)
2.      Al-Jihadu fi Sabilillah U (jihad di jalan Allah U)
Allah berfirman ;
(قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ)
“katakanlah, ‘jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan RasulNya serta berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah  memberikan keputusanNya......” (QS At-Taubah : 24)
Ada empat macam mahabbah :
1.    Mahabbah Ibadah, yaitu mencintai Allah dan mencintai apa yang dicintai oleh Allah U.
2.      Mahabbah Syirik, yatu mencintai, tunduk dan mengagungkan selain Allah U.
3.      Mahabbah Maksiat, yaitu seperti mencintai bid’ah dan hal-hal yang haram.
4.     Mahabbah Thobi’i (wajar/tabiat), seperti mencintai anan-anak dan keluarga secara wajar. (At-Tauhid Al-Muyassar-pdf, hal. 56 karya Abdullah bin Ahmad Al-Huwail)
Adakalanya seorang hamba butuh usaha untuk memaksa dirinya agar hatinya penuh dengan kecintaan kepadaNya. Sebab, bila hal itu terwujud maka manusia akan selalu dalam kebaikan. Rasulullah r  berdo’a :
((اللّهُمَّ إِنِّيْ أسْألُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إلَى حُبِّكَ))
“Ya Allah, aku meminta kepadaMu kecintaanMu, kecintaan orang-orang yang mencintaiMu, dan kecintaan terhadap amalan yang bisa mendekatkan kepada kecintaanMu.” (HR at-Tirmidzi, dikutip dari majalah Al-Furqon Edisi 8 Tahun ke-14, hal.54)

2.        Roja’ (berharap)
Roja’ adalah mengharapkan pahala, rahmat dan ampunan dari Allah U. Hamba yang taat lagi rajin beribadah berharap agar ibadahnya diterima dan diganjar oleh Allah U, sedangkan hamba yang bertaubat mengharapkan rahmat dan ampunan Allah U dari segala dosa. Begitu pula, hendaknya seorang hamba senantiasa berharap kepada Allah U tanpa berputus asa dariNya, Allah U berfirman dalam surat Yusuf ayat 87;
(إِنَّهُ لاَ يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ )
“sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang yang kafir” (Al-Mufid Fi Muhimmaatit Tauhid-pdf, hal. 99 oleh syaikh Abdul Qodir bin Muhammad Atho Shufi)
Roja’ ada tiga macam :
1.      Roja’ Ibadah, yaitu roja’ (berharap) hanya kepada Allah U, roja’ jenis ini dibagi menjadi dua :
1.  Roja’ Mahmudah (terpuji), yaitu harapan yang disertai amalan dan ketaatan kepada Allah U.
2.  Roja’ Madzmumah (tercela), yaitu harapan kosong tanpa disertai usaha (angan-angan belaka).
2.   Roja’ Syirik, yaitu roja’ (berharap) sesuatu yang merupakan milik (kekhususan) Allah U semata kepada selain Allah U.
3.  Roja’ Thobi’i (tabiat/alami), yaitu harapan seseorang kepada orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai kemampuannya, misalnya perkataan seseorang, “aku harap kamu bisa hadir”. (At-Tauhid Al-Muyassar-pdf, hal. 60 karya Abdullah bin Ahmad Al-Huwail)
Roja’ dapat diperoleh dengan sebab-sebab berikut :
  •  Kesaksian terhadap keagungan Allah U, anugerah-anugerahNya dan kemurahanNya terhadap para hambaNya
  • Kesungguhan dan ketulusan dalam mengharapkan pahala dan anugerah Allah U
  • Senantiasa beramal solih dan berlomba-lomba dalam kebaikan. (Al-Mufid Fi Muhimmaatit Tauhid-pdf, hal. 99 oleh syaikh Abdul Qodir bin Muhammad Atho Shufi)


3.    Khouf (takut)
 Khouf adalah takutnya seorang hamba kepada Allah U jika Allah U menghukumnya dengan suatu hukuman yang disegerakan atau diakhirkan, dan takut kepada ancaman Allah U berupa siksa dan adzab bagi para pelaku maksiat di akhirat. Allah U berfirman :
ذَلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ 
“yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (menghadap) ke hadiratKu dan takut akan ancamanKu” (QS Ibrohim : 14)
Khouf adalah tingkat keimanan yang paling tinggi selama tidak membuat seseorang berputus asa dari rahmat Allah U. (Al-Mufid Fi Muhimmaatit Tauhid-pdf, hal. 100 oleh syaikh Abdul Qodir bin Muhammad Atho Shufi)
Hukum khouf ada empat macam :
1.      Syirik Besar, yaitu takut kepada selain Allah U dalam perkara yang hanya mampu dilakukan oleh Allah U.
2.      Haram, yaitu meninggalkan kewajiban atau melakukan sesuatu yang haram karena takut pada manusia.
3.    Jaiz (boleh), yaitu ketakutan yang wajar, seperti takut dengan singa dan pemimpin yang kejam.
4.      Ibadah, yaitu takut hanya kepada Allah U.
Takut kepada Allah U dibagi dua :
1.  Terpuji, yaitu melakukan segala kewajiban dan meninggalkan hal yang haram karena takut bermaksiat kepada Allah U.
2.    Tercela, yaitu takut yang membuat seorang hamba berputus asa dari rahmat Allah U. (At-Tauhid Al-Muyassar-pdf, hal. 58-59 karya Abdullah bin Ahmad Al-Huwail)
Kurangnya rasa takut pada diri seorang hamba disebabkan karena ia kurang mengenal Rabbnya. Orang yang paling mengenal Allah U adalah orang yang paling takut kepadaNya. (Al-Mufid Fi Muhimmaatit Tauhid-pdf, hal. 101 oleh syaikh Abdul Qodir bin Muhammad Atho Shufi)
Allah U berfirman :
(إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ)
“diantara hamba-hamba Allah yang takut kepadaNya hanyalah para ulama” (QS Fathir : 28)
Betapa indahnya jika seorang hamba senantiasa takut kepada Allah U baik ketika bersama orang lain atau ketika sedang sendirian, karena Allah U menjanjikan pahala yang sangat besar dan agung bagi hamba yang senantiasa takut kepadaNya, Allah U berfirman :
(وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ جَنَّتَانِ)
“dan bagi siapa yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga ” (QS Ar-Rahman : 46)
Itulah sedikit dari penjelasan mengenai rukun-rukun ibadah. Semoga paparan yang ringkas ini bisa meneguhkan kita di atas jalan yang haq.


Akhirnya, kami memohon kepada Allah Y dengan asma-asmaNya yang indah dan sifat-sifatNya yang luhur agar senantiasa memperbaiki amal ibadah kita dan juga menganugrahkan kepada kita semua ihsan dan kekhusyukan dalam beribadah. Dan semoga Allah Y selalu memberikan taufiq kepada kita semua kaum muslimin agar menjalankan amal ibadah dengan sebagus dan sesempurna mungkin. Wallahu a’lam bishshowab